Langsung ke konten utama

Bank Dunia Tambah 10 Desa Yang Dapat Bantuan

KABUPATEN KLATEN (KRjogja.com) - Tahun 2010, setidaknya ada 10 desa di Kabupaten Klaten yang akan mendapatkan bantuan dana pembangunan fisik dari Bank Dunia dibawah koordinasi "Java Reconstruction Fund". Sehingga dengan adanya tambahan ini, maka sejak 2007 lalu total ada 65 desa yang sudah mendapat bantuan.
Hal itu disampaikan Kasubbid Pekerjaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Klaten Ir Sugeng Santoso MM kepada wartawan di sela-sela sosialisasi bantuan dari Bank Dunia di Desa Kebon Kecamatan Bayat Klaten, Selasa (26/1). Sugeng mengatakan, dari 10 desa yang akan mendapatkan dana bantuan itu namun belum bisa disebutkan desa mana saja. Sebab, masih akan diselenggarakan seleksi administrasi pada beberapa desa lain yang juga mengajukan bantuan.
"Dari 65 desa yang mendapat bantuan itu, untuk pembangunan fisik di 37 desa dibawah naungan JRF, sedang 28 desa dibawah koordinasi Bappeda. Pembagian itu berupa Bappeda memberikan fasilitas tahapan seleski administrasi dan JRF ke pembangunan fisiknya. Sementara itu, mengenai nominalnya antara satu desa dengan desa lainnya berbeda-beda. Itu disesuaikan dengan seberapa besar kerusakan fisik yang dialami desa ketika terkena gempa 2006 lalu. Selama ini rata-rata mereka mendapat bantuan antara Rp 140-700 juta," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kebon Sukoco mengungkapkan, pihaknya mengajukan bantuan dari Bank Dunia pada 2009. Desanya akan mendapat bantuan Rp 350 juta yang terbagi dalam dua termin. Termin pertama 40 persennya atau Rp 140 juta untuk 13 kegiatan. Menurutnya, Desa Kebon kondisi fisiknya bisa dikatakan 75 persen rusak setelah terkena gempa 2006 lalu. Kondisi fisik, ada yang sudah diperbaiki dengan menggunakan dana ADD atau dari PNPM. "Tapi hasilnya kurang maksimal. Makanya kami lalu mengajukan permohonan bantuan dari JRF dan ternyata lolos," tegas Sukoco. (R-6)
Sumber : KrJogja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA PENGHASIL BATIK TULIS RAMAH LINGKUNGAN

Batik Desa Kebon yang menggunakan pewarna alami Batik merupakan salah satu karya seni terkemuka di seluruh nusantara dan telah menjadi kegiatan produksi yang penting di beberapa kota di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Perindustrian, pada tahun 2009 terdapat 28,287 UKM batik di Inonesia yang mempekerjakan 792.286 tenaga kerja. Suksesnya pedagangan batik di Indonesia menimbulkan persoalan lingkungan sendiri karena industri batik setiap tahunnya memproduksi kadar emisi CO2 yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan sektor UKM lainnya dengan mengkonsumsi bahan bakar minyak tanah, zat kimia pemutih secara berlebihan sehingga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Desa Kebon yang terletak di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu sentra batik tulis dengan menggunakan pewarna alam. Sebelum gempa DIY-Jateng 2006, sebagian pembatik di desa ini menjadi buruh batik ditempat usaha batik...

ICE CREAM TRENDY

ICE CREAM TRENDY  : Berasal dari kata ICE = dingin dan CREAM : krim dan dipadukan menjadi ICE CREAM, sedangkan nama TRENDY adalah inspirasi dari si pemilik usaha ICE CREAM TRENDY yang bernama BP. Bambang. BP. Bambang merupakan seseorang warga Desa kebon yang cukup ulet membangun usaha demi menafkah I anak istinya, Pria kelahiran klaten, juli 1975 ini mempunyai 2 anak laki-laki yang dan 1 orang istri. Sosok Bp. Bambang  merupakan salah satu warga Desa kebon yang memiliki jiwa yang tidak pantang menyerah dan terus berusaha dan juga belajar dari sebuah kegagalan yang dia alami.

BATIK TULIS KEBON INDAH

Produk kain batik yang dihasilkan oleh industri Kebon Indah adalah kain panjang. Banyak produk kain panjang yang telah diproduksi dengan tampilan motif yang beraneka ragam. Produk kain panjang yang dihasilkan dengan motif tertentu, maka akan disebut dengan nama motif tersebut. Motif batik digunakan untuk penamaan pola atau kain batik itu sendiri. Misalnya saja, kain panjang yang dibuat dengan Motif Daun Singkong maka akan disebut dengan kain Batik Daun Singkong. Produk kain panjang ini memiliki ukuran panjang 250 cm dan lebar 110 cm. Kain panjang berfungsi sebagai benda pakai untuk kain bawahan yang digunakan oleh kaum wanita. Dalam bahasa Jawa, kain panjang yang digunakan untuk bagian bawah dari pakaian wanita ini disebut jarit. Jarit dipakai dengan cara diikatkan dipinggang yang dikenakan oleh kaum wanita sebagai pakaian sehari-hari. Jarit merupakan pakaian tradisional Jawa yang sampai saat ini masih terjaga eksistensinya.