Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 31, 2011

SEJARAH DAN ASAL-USUL KOTA KLATEN

Ada dua versi yang menyebutkan tentang asal mula nama Klaten , versi yang pertama menyebutkan bahwa kata Klaten berasal dari kata Kelati atau buah bibir. Kemudian seiring perjalanan waktu kata kelati ini mengalami disimilasi menjadi Klaten. Versi kedua beradasarkan kata orang tua terdahulu dan turun temurun yang dikutip dalam buku berjudul “Klaten dari Masa ke Masa” yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993. Versi kedua ini menyebutkan bahwa Klaten awal mulanya berasal dari kata Melati, Melati adalah nama seorang Kyai yang datang dan menetap ke tempat yang masih hutan belantara (sekarang menjadi kota Klaten) kurang lebih 560 tahun yang lalu, dan semakin lama orang semakin berdatangan dan berkembang hingga menjadi kota Klaten seperti sekarang ini. Nama lengkap Kyai Melati adalah Kyai Melati Sekolekan. Dan nama dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat kemudian diberi nama dukuh Sekolekan (sekar...

REKOMPAK JRF SUKSES BERKAT SWADAYA MASYARAKAT

Klaten - Swadaya masyarakat Desa Kebon, Kecamatan Bayat sangat tinggi dalam waktu setengah tahun mulai Januari 2010 sampai Mei 2010 bisa mengumpulkan dana 108 Juta guna menunjang Rekompak JRF (Proyek Rehabilitasi dan Rekontruksi Masyarakat dan Pemukiman Berbasis Komunitas-Java Recontruction Fund) yang dibiayai Bank Dunia. Sukaca, Selaku Kepala Desa Kebon mengatakan bahwa swadaya masyarakat merupakan bukti nyata antusias dan keiklasan warga dalam mensukseskan Rekompak JRF yang dibiayai oleh World Bank. Swadaya ini berwujud hibah tanah maupun bangunan yang terkena proyek, tenaga lapangan, dan iuran warga yang keseluruhannya senilai 108 juta rupiah. Dari hibah tanah maupun bangunan tercatat sebanyak 28 warga desa Kebon merelakan dan menghibahkan tanahnya untuk proyek Rekompak JRF. Untuk tahap pertama ini World Bank memberikan bantuan dana sebesar 350 juta. Bantuan ini telah di implementasikan oleh warga untuk membangun sarana infrastruktur desa yang berupa pembangunan ...

DESA PENGHASIL BATIK TULIS RAMAH LINGKUNGAN

Batik Desa Kebon yang menggunakan pewarna alami Batik merupakan salah satu karya seni terkemuka di seluruh nusantara dan telah menjadi kegiatan produksi yang penting di beberapa kota di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Perindustrian, pada tahun 2009 terdapat 28,287 UKM batik di Inonesia yang mempekerjakan 792.286 tenaga kerja. Suksesnya pedagangan batik di Indonesia menimbulkan persoalan lingkungan sendiri karena industri batik setiap tahunnya memproduksi kadar emisi CO2 yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan sektor UKM lainnya dengan mengkonsumsi bahan bakar minyak tanah, zat kimia pemutih secara berlebihan sehingga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Desa Kebon yang terletak di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu sentra batik tulis dengan menggunakan pewarna alam. Sebelum gempa DIY-Jateng 2006, sebagian pembatik di desa ini menjadi buruh batik ditempat usaha batik...

Workshop Teknologi Tepat Guna Program CBI di Ds Kebon, Klaten

Dua hari setelah  Technical Consultant (TCs) program CBI mendapatkan transfer knowledge penerapan Teknologi Tepat Guna dalam ToT – B, pada tanggal 3 September 2010 dilaksanakan workshop - B di Desa Kebon, Bayat, Klaten. Workshop - B ini merupakan lanjutan dari workshop sebelumnya yang bertujuan untuk memberikan informasi beberapa alternatif teknologi tepat guna yang dapat di terapkan di IKM batik untuk mendukung eko efisiensi. Materi yang diberikan dalam workshop tersebut disesuaikan dengan permintaan dan kondisi IKM batik setempat yaitu efisiensi penggunaan air, penggunaan kembali larutan zat warna bekas, zat warna alam, optimasi alat pencelupan warna, kompor listrik untuk pembatikan, alat recovery lilin batik dan pengelolaan limbah batik secara sederhana . Selain itu peserta workshop diberikan demo penggunaan kompor listrik untuk pembatikan sebagai alternatif lain dari kompor minyak tanah yang saat ini masih banyak digunakan oleh para pembatik di Des...

Networking Meeting & Technical Meeting

Kegiatan Workshop dan Technical Assitance yang telah dilakukan oleh TC CBI beberapa waktu yang lalu diketiga lokasi diantaranya Desa Kebon, Desa Beluk&Paseban dan Taman Sari, dilanjutkan dengan kegiatan Networking Meeting dengan tujuan untuk mengumpulkan perwakilan dari masing-masing clustering UKM dengan harapan dari pertemuan ini didapat manfaat hasil yang telah dilakukan dari masing-masing UKM dan faktor yang menjadi kekurangan selama pendampingan yang belum terealisasi di masing-masing UKM, sehingga dari pertemuan jejaring ini didapat langkah pasti untuk membantu dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh UKM.

SUMINAH, PENDEKAR YANG MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

Dukuh Konang, Desa kebon , Kec. Bayat, Klaten memiliki seorang ”Pendekar”, yang mendorong pemberdayaan buruh batik. Kisah tersebut ternyata sampai di Thailand, tempat penyelenggaraan Human Home Worker Conference. Bahkan idenya direkomendasi untuk diterapkan di beberapa negara lain.

Semangat Pengrajin Batik Indonesia

Dukuh Konang, Desa kebon,  Bayat, Klaten memiliki seorang ”pendekar” yang mendorong pemberdayaan buruh batik. Kisah tersebut ternyata sampai ke Thailand, tempat penyelenggaraan Human Home Worker Conference. Bahkan idenya direkomendasikan untuk direduplikasi di beberapa negara lainnya. Dia adalah Suminah, seorang perempuan yang hanya menyelesaikan sekolah dasar melalui ujian persamaan. Namun di balik kegarangannya ketika menagih hutang anggota, tersimpan idealisme pemberdayaan yang tiada tanding.

Keswadayaan Perempuan

Sejumlah perempuan mendatangi sebuah rumah di Dusun Kebon Konang, Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Para perempuan berpenampilan sederhana itu membawa sejumlah buku besar kumal. Setelah berkumpul, mereka membahas pembukuan kas kelompok mereka. Siapa sangka jika para ibu yang kebanyakan buruh batik itu tengah mengurus perputaran uang ratusan juta rupiah. Dengan hanya bermodal awal Rp 1 juta, kelompok perempuan buruh batik itu berhasil  mengembangkan usaha simpan pinjam hingga ratusan juta rupiah. Dalam kurun waktu 15 tahun tanpa bantuan pemerintah, mereka pun berhasil keluar dari jerat utang kepada rentenir. Keswadayaan yang dipelopori Suminah, perempuan desa setempat, ini ditunjukkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sido Mukti Bayat, yang beranggotakan para perempuan buruh batik.

Warga Jangan Bakar Sampah di Pemakaman

KABUPATEN KLATEN ‑ Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Kabupaten Klaten dalam menghadapi musim kemarau dan ruwahan menghimbau warga yang melakukan ziarah ke makam‑makam untuk tidak membakar sampah di sembarang tempat di komplek pemakaman. Upaya itu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan yang dinilai rawan pada saat sekarang ini. "Kalau ruwahan biasanya banyak sekali orang yang berziarah untuk membersihkan komplek makam leluhurnya. Tidak jarang pula para pejiarah itu membakar sampah di komplek makam sekalipun perbuatan itu mengundang kerawanan," kata Sekretaris Paguyuban LMDH Kabupaten Klaten, Suharno, kemarin siang. Selain komplek makam, tempat lain yang menjadi perhatian LMDH adalah tempat‑tempat keramat yang sering dijadikan warga sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Saat mengunjungi tempat tersebut ujar dia, warga juga tidak jarang membakar sesuatu sehingga dimungkinkan terjadinya kebakaran kawasan hutan.

KEBANGKITAN USAHA KECIL MENENGAH DI KLATEN PASCA GEMPA BUMI

Saat kami sedang mengaduk adonan keripik tempe, bumi bergoncang keras dan rumah roboh. Genteng atap rumah menimpa penggorengan di atas kompor,’’ ujar Subowo (50), perajin makanan kecil di Sentra Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Gondangan, Klaten. Gempa yang melanda Yogyakarta dan Klaten itu berdampak pada sentra-sentra industri kecil di daerah tersebut. Mereka harus memulai kembali usahanya dari nol dengan mencari pinjaman modal atau mengharap bantuan dari LSM dan pemerintah. Subowo mengatakan tidak hanya harus membangun rumahnya yang roboh, tapi juga kembali membangkitkan usahanya yang merupakan mata pencaharian utama. Setelah gempa itu usahanya berhenti satu bulan. ‘’Beruntung kami mendapat bantuan berupa dana pendampingan dari LSM di luar negeri, sehingga para perajin di Desa Gondangan dapat memulai lagi usahanya,’’ tutur Ketua Kelompok Perajin Makanan Kecil Guna Darma itu.

MENGENANG 4 TAHUN PASCA GEMPA : Tangguh menuju Kemandirian Bersama

DIY Dalam rangka memperingati sekaligus mengenang empat tahun gempa yang melanda wilayah DI. Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tanggal 27 Mei 2010 silam, Pemerintah Propinsi DI. Yogyakarta dan Jawa Tengah bekerja sama dengan Java Reconstruction Fund (JRF) menyelenggarakan serangkaian acara yang bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat ketangguhan dan kemandirian bersama masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta membangun kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menangani bencana.

Bank Dunia Tambah 10 Desa Yang Dapat Bantuan

KABUPATEN KLATEN (KRjogja.com) - Tahun 2010, setidaknya ada 10 desa di Kabupaten Klaten yang akan mendapatkan bantuan dana pembangunan fisik dari Bank Dunia dibawah koordinasi "Java Reconstruction Fund". Sehingga dengan adanya tambahan ini, maka sejak 2007 lalu total ada 65 desa yang sudah mendapat bantuan. Hal itu disampaikan Kasubbid Pekerjaan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Klaten Ir Sugeng Santoso MM kepada wartawan di sela-sela sosialisasi bantuan dari Bank Dunia di Desa Kebon Kecamatan Bayat Klaten, Selasa (26/1). Sugeng mengatakan, dari 10 desa yang akan mendapatkan dana bantuan itu namun belum bisa disebutkan desa mana saja. Sebab, masih akan diselenggarakan seleksi administrasi pada beberapa desa lain yang juga mengajukan bantuan. "Dari 65 desa yang mendapat bantuan itu, untuk pembangunan fisik di 37 desa dibawah naungan JRF, sedang 28 desa dibawah koordinasi Bappeda. Pembagian itu berupa Bappeda memberikan fasilitas...

SEJARAH BATIK INDONESIA

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.

Desa kebon Serempak pemilihan RW dan RT

Desa kebon - Sudah tiga taun yang lalu desa kebon memilih para wakil rakyat tingkat rt dan rw dan setelah para rt dan rw terpilih melaksanakan tugasnya tiga tahun lalu hingga sekarang, saatnya momen itu terulang kembali di akhir bulan desember ini, dengan dipimpin sekdes desa kebon ( H.Suyadi ) beserta aparat desa lainnya yang sudah terbentuk susunan panitianya maka pada akhir bulan desember 2010 ini seluruh RW di Desa Kebon diakhiri masa jabatannya dan diadakan pemilihan ketua RW dan RT setempat untuk re-organisasi. Pemungutan suara tidak dilakukan pada satu tempat di Balai Desa, namun pemilihan di adakan di RW masing-masing dengan tertib mulai dari hari pertama sampai hari terakhir. urut setiap hari 1 RW, namun uniknya pemillihannya bukan pada siang hari namun malam hari seperti pertemuan RW sebagaimana mestinya. yang membuat aneh lagi pada pemilihan RW dan RT desa kebon tidak ada yang mencalonkan dari pihak masyarakat setempat namun para pemilih bebas memilih siapa ...

Pasar Tradisional vs Pasar Modern

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan pasar modern dewasa ini sudah menjadi tuntutan dan konsekuensi dari gaya hidup modern yang berkembang di masyarakat kita. Tidak hanya di kota metropolitan tetapi sudah merambah sampai kota kecil di tanah air. Sangat mudah menjumpai minimarket, supermarket bahkan hipermarket di sekitar tempat tinggal kita. Tempat-tempat tersebut menjanjikan tempat belanja yang nyaman dengan harga yang tidak kalah menariknya. Namun demikian, pasar tradisional ternyata masih mampu untuk bertahan dan bersaing di tengah serbuan pasar modern dalam berbagai bentuknya. 1. Karakter/Budaya Konsumen. Meskipun informasi tentang gaya hidup modern dengan mudah diperoleh, tetapi tampaknya masyarakat masih memiliki budaya untuk tetap berkunjung dan berbelanja ke pasar tradisional. Perbedaan itulah adalah di pasar tradisional masih terjadi proses tawar-menawar harga, sedangkan di pasar modern harga sudah pasti ditandai dengan label...

BATIK MILIK INDONESIA

Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda. Kesen...

Kali Dengkeng Meluap lagi

Cuaca pada akhir-akhir ini yang kurang begitu di inginkan membuat repot banyak orang, apalagi pada beberapa hari ini terjadi hujan lebat pada siang menjelang sore hari, tak beda di desa kebon pun terkena dampak dari semua itu….. hujan lebat yang mengguyur desa kebon dan sekitarnya pada awal tahun 2011 yaitu pada hari senin, 3 januari 2011 menyebabkan sungai Dengkeng yang terletak diantara desa Jotangan dan kebon dan sekitarnya mengalami peningkatan yang sangat signifikan dan menyebabkan sungai tersebut meluap, luapan sungai dengkeng ( kali dengkeng ) menyebabkan desa-desa yang letaknya disepanjang kali dengkeng terkena imbasnya alias kebanjiran. namun luapan kali dengkeng pada hari senin tanggal 3 januari 2011 tak sedasyat luapan kali dengkeng pada tanggal 4 November 2010 yang lumayan dasayat sampai jalan-jalan diwilayak desa kebon bagian barat ( rt 1 dan 3 di RW 2 ) ada beberapa rumah yang terkena imbasnya pada tanggal 4 November 2010. namun luapan air pada senin kemari...

Pasar Ekspor Mulai Melirik Batik Pewarna Alami Desa Kebon

Perindustrian batik dengan pewarna alam yang dirintis pascagempa tahun 2006 lalu, kini mulai dilirik pasar mancanegara. Proses pembuatan yang alami membuat batik ini mulai menggeser keberadaan batik tulis maupun batik cap. Industri batik dengan pewarna alam yang ada di Desa Kebon, Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, mulai menggeliat. Warga desa yang sebelumnya hanya menjadi buruh batik pengusaha besar kini banyak yang sudah berhasil membangun usaha sendiri. Salah seorang ketua kelompok batik Desa Kebon, Sri Windarti, menjelaskan batik tulis pewarna alami saat ini memang laris di pasar internasional karena ramah lingkungan. Proses pewarnaan batik yang sebelumnya menggunakan obat-obatan kimia kini telah berganti dengan aneka tumbuh-tumbuhan alami. Kelompok batik di desa itu selama ini mendapatkan pembinaan dan pendampingan dari lembaga donor Uni Eropa. Sebagai strategi pengembangan industri batik ramah lingkungan masing- masing anggota lembaga donor berkomitmen mempromos...