Langsung ke konten utama

Keswadayaan Perempuan

Sejumlah perempuan mendatangi sebuah rumah di Dusun Kebon Konang, Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Para perempuan berpenampilan sederhana itu membawa sejumlah buku besar kumal. Setelah berkumpul, mereka membahas pembukuan kas kelompok mereka. Siapa sangka jika para ibu yang kebanyakan buruh batik itu tengah mengurus perputaran uang ratusan juta rupiah. Dengan hanya bermodal awal Rp 1 juta, kelompok perempuan buruh batik itu berhasil  mengembangkan usaha simpan pinjam hingga ratusan juta rupiah. Dalam kurun waktu 15 tahun tanpa bantuan pemerintah, mereka pun berhasil keluar dari jerat utang kepada rentenir.
Keswadayaan yang dipelopori Suminah, perempuan desa setempat, ini ditunjukkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sido Mukti Bayat, yang beranggotakan para perempuan buruh batik.

Pengembangan sistem simpan pinjam itu lalu dikembangkan menjadi dana sehat. Dengan hanya menyisihkan Rp 200 per bulan, anggota yang sakit dapat berobat gratis ke puskesmas. KSM itu juga berhasil memiliki mesin pencelup batik sendiri, Bahkan, tahun 2006, kelompok beranggotakan 45 orang itu membagi sisa hasil usaha Rp 21 juta.

Kisah perjuangan Suminah dan kelompoknya ini pun bergema hingga Thailand dalam Konferensi Pekerja Rumah Tangga. Bahkan, ide itu direkomendasikan untuk direduplikasi ke beberapa negara. "Saya tidak menyangka apa yang kami lakukan ternyata dijadikan contoh negara lain," kata Suminah.

Keswadayaan masyarakat desa juga dipelopori oleh Dalinem. Ia dan warga desanya membabat alas membuka jalan di Dusun Sumber Watu, di Pegunungan Kapur Candi Boko, Sleman, DI Yogyakarta. Pihak kecamatan dan program ABRI Masuk Desa pun mendukung, dengan membuat penampungan air hujan.

Selama puluhan tahun, daerah itu sebelumnya terisolasi dari desa lain. Untuk menjangkau desa lain, warga harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak beberapa kilometer. Kondisi itu membuat desa itu jauh tertinggal dibandingkan dengan desa tetangga yang ada di bawah pegunungan itu dalam bidang ekonomi dan sosial.

Semangat para perempuan dalam membangun keswadayaan masyarakat sering harus berbenturan dengan berbagai pihak.

Suminah sendiri kala itu harus berjuang keras untuk mengumpulkan ibu-ibu dan mengembangkan embrio kelompok yang jadi basis pemberdayaan perempuan pengusaha kecil. Tantangan terutama datang dari para suami yang menganggap istri-istri mereka lebih banyak berkumpul dan bergosip daripada bekerja.

Kecurigaan lain juga muncul dari aparat pemerintah desa yang merasa jabatannya terancam ketika para ibu digerakkan dalam sebuah kelompok. Para anggota kelompok pun diintimidasi agar tidak menjadi pengurus. Ini membuat Suminah harus berperan sebagai motivator, ketua, bendahara sekaligus sekretaris kelompok.

Ganjalan dari aparatur desa juga dihadapi Forum Peduli Perempuan Pengusaha Kecil Ampel (FP3K-A), Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang digagas Sri Suryatingsih tahun 2001. Kelompok usaha yang mayoritas anggotanya pengusaha kecil seperti penjual bubur dan tempe ini telah berkembang jadi gerakan perempuan.

Komunitas perempuan "melek politik" itu lalu mendorong adanya dialog publik dalam pemilihan kepala desa yang tidak sesuai pakem politik desa konvensional. Aparat pemerintah setempat pun ketakutan jika gerakan perempuan itu menentang aparat desa.

"Aparat mengintimidasi dan meminta kegiatan kelompok harus ada izin," ujar Sri menjelaskan, Berkat kegigihan para perempuan desa itu, segala rintangan yang dihadapi akhirnya bisa diatasi.

Dari analisis statistik terhadap data tahun 2002 diperoleh kesimpulan, lima variabel pemberdayaan perempuan, yaitu jumlah penduduk perempuan, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, kontribusi dalam pendapatan, dan wanita dalam parlemen, berpengaruh positif terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi. Hasil ini makin mempertegas peran penting pemberdayaan perempuan dalam pembangunan.

Salah satu kunci keberhasilan pemberdayaan perempuan adalah sektor pendidikan. Sebenarnya banyak kisah sukses pemberdayaan masyarakat yang dapat menginspirasi bangsa ini.

Sayangnya, menurut Ketua Yayasan Bina Swadaya Bambang Ismawan, perjuangan rakyat kecil di tingkat akar rumput itu kerap luput dari perhatian pemerintah, dan dianggap sepele oleh banyak pihak.
EVY RACHMAWATI
Sumber: Kompas, 30 Oktober 2007 http://www.kompas.co.id/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA PENGHASIL BATIK TULIS RAMAH LINGKUNGAN

Batik Desa Kebon yang menggunakan pewarna alami Batik merupakan salah satu karya seni terkemuka di seluruh nusantara dan telah menjadi kegiatan produksi yang penting di beberapa kota di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Perindustrian, pada tahun 2009 terdapat 28,287 UKM batik di Inonesia yang mempekerjakan 792.286 tenaga kerja. Suksesnya pedagangan batik di Indonesia menimbulkan persoalan lingkungan sendiri karena industri batik setiap tahunnya memproduksi kadar emisi CO2 yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan sektor UKM lainnya dengan mengkonsumsi bahan bakar minyak tanah, zat kimia pemutih secara berlebihan sehingga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Desa Kebon yang terletak di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu sentra batik tulis dengan menggunakan pewarna alam. Sebelum gempa DIY-Jateng 2006, sebagian pembatik di desa ini menjadi buruh batik ditempat usaha batik...

SEJARAH DAN ASAL-USUL KOTA KLATEN

Ada dua versi yang menyebutkan tentang asal mula nama Klaten , versi yang pertama menyebutkan bahwa kata Klaten berasal dari kata Kelati atau buah bibir. Kemudian seiring perjalanan waktu kata kelati ini mengalami disimilasi menjadi Klaten. Versi kedua beradasarkan kata orang tua terdahulu dan turun temurun yang dikutip dalam buku berjudul “Klaten dari Masa ke Masa” yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993. Versi kedua ini menyebutkan bahwa Klaten awal mulanya berasal dari kata Melati, Melati adalah nama seorang Kyai yang datang dan menetap ke tempat yang masih hutan belantara (sekarang menjadi kota Klaten) kurang lebih 560 tahun yang lalu, dan semakin lama orang semakin berdatangan dan berkembang hingga menjadi kota Klaten seperti sekarang ini. Nama lengkap Kyai Melati adalah Kyai Melati Sekolekan. Dan nama dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat kemudian diberi nama dukuh Sekolekan (sekar...

ICE CREAM TRENDY

ICE CREAM TRENDY  : Berasal dari kata ICE = dingin dan CREAM : krim dan dipadukan menjadi ICE CREAM, sedangkan nama TRENDY adalah inspirasi dari si pemilik usaha ICE CREAM TRENDY yang bernama BP. Bambang. BP. Bambang merupakan seseorang warga Desa kebon yang cukup ulet membangun usaha demi menafkah I anak istinya, Pria kelahiran klaten, juli 1975 ini mempunyai 2 anak laki-laki yang dan 1 orang istri. Sosok Bp. Bambang  merupakan salah satu warga Desa kebon yang memiliki jiwa yang tidak pantang menyerah dan terus berusaha dan juga belajar dari sebuah kegagalan yang dia alami.