Langsung ke konten utama

Warga Jangan Bakar Sampah di Pemakaman

KABUPATEN KLATEN ‑ Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Kabupaten Klaten dalam menghadapi musim kemarau dan ruwahan menghimbau warga yang melakukan ziarah ke makam‑makam untuk tidak membakar sampah di sembarang tempat di komplek pemakaman. Upaya itu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan yang dinilai rawan pada saat sekarang ini.
"Kalau ruwahan biasanya banyak sekali orang yang berziarah untuk membersihkan komplek makam leluhurnya. Tidak jarang pula para pejiarah itu membakar sampah di komplek makam sekalipun perbuatan itu mengundang kerawanan," kata Sekretaris Paguyuban LMDH Kabupaten Klaten, Suharno, kemarin siang.

Selain komplek makam, tempat lain yang menjadi perhatian LMDH adalah tempat‑tempat keramat yang sering dijadikan warga sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Saat mengunjungi tempat tersebut ujar dia, warga juga tidak jarang membakar sesuatu sehingga dimungkinkan terjadinya kebakaran kawasan hutan.

Suharno menjelaskan kawasan hutan negara di wilayah Kabupaten Klaten tercatat seluas 639,8 hektar dan masuk wilayah Resort Pemangku Hutan (RPH) Cawas, KPH Surakarta. Ke‑639,8 hektar tersebut tersebar di Desa Jimbung (Kecamatan Kalikotes) seluas 16,8 hektar, Desa Melikan (Wedi) 46,1 hektar, Desa Krakitan (Bayat) 172,4 hektar, Desa Paseban (bayat) 44,1 hektar, Desa Krikilan (Bayat) 38,9 hektar, Jotangan (Bayat) 39,9 hektar, Desa Wiro (Bayat) 38,9 hektar, Desa Kebon (Bayat) 54,9 hektar, Desa Talang (Bayat) 16 hektar, Dsa Tawangrejo (Bayat) 15,3 hektar, Desa Gunung Gajah (Bayat) 85,6 hektar dan Desa Banyuripan (Bayat) 73,3 hektar.
Secara lisan, LMDH telah menyampaikan larangan‑larangan tersebut kepada pejiarah dan juru kunci makam dikawasan yang dinilai rawan seperti di kawasan pebukitan jibalkat.
Data di LMDH Klaten menyebutkan hingga saat ini setidaknya kawasan hutan negara yang telah terbakar seluas 4 hektar dengan beraneka macam tanaman seperti mahoni, jati, mimbo (bahan jamu), secang, johar dan gemilina (bahan kertas). Meski dinilai belum mengkhawatirkan namun LMDH menilai tidak salahnya  dilakukan upaya pencegahan sebab tanggungjawab terhadap kelestarian hutan negara adalah tanggungjawab bersama.
"Kami sudah punya satdamkar (satuan petugas pemadam kebakaran) sukarela dari unsur masyarakat dan petugas pemadam kebakaran hutan dari perhutani," ujar Suharno.

Sumber : bernas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA PENGHASIL BATIK TULIS RAMAH LINGKUNGAN

Batik Desa Kebon yang menggunakan pewarna alami Batik merupakan salah satu karya seni terkemuka di seluruh nusantara dan telah menjadi kegiatan produksi yang penting di beberapa kota di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Perindustrian, pada tahun 2009 terdapat 28,287 UKM batik di Inonesia yang mempekerjakan 792.286 tenaga kerja. Suksesnya pedagangan batik di Indonesia menimbulkan persoalan lingkungan sendiri karena industri batik setiap tahunnya memproduksi kadar emisi CO2 yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan sektor UKM lainnya dengan mengkonsumsi bahan bakar minyak tanah, zat kimia pemutih secara berlebihan sehingga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Desa Kebon yang terletak di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu sentra batik tulis dengan menggunakan pewarna alam. Sebelum gempa DIY-Jateng 2006, sebagian pembatik di desa ini menjadi buruh batik ditempat usaha batik...

SEJARAH DAN ASAL-USUL KOTA KLATEN

Ada dua versi yang menyebutkan tentang asal mula nama Klaten , versi yang pertama menyebutkan bahwa kata Klaten berasal dari kata Kelati atau buah bibir. Kemudian seiring perjalanan waktu kata kelati ini mengalami disimilasi menjadi Klaten. Versi kedua beradasarkan kata orang tua terdahulu dan turun temurun yang dikutip dalam buku berjudul “Klaten dari Masa ke Masa” yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993. Versi kedua ini menyebutkan bahwa Klaten awal mulanya berasal dari kata Melati, Melati adalah nama seorang Kyai yang datang dan menetap ke tempat yang masih hutan belantara (sekarang menjadi kota Klaten) kurang lebih 560 tahun yang lalu, dan semakin lama orang semakin berdatangan dan berkembang hingga menjadi kota Klaten seperti sekarang ini. Nama lengkap Kyai Melati adalah Kyai Melati Sekolekan. Dan nama dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat kemudian diberi nama dukuh Sekolekan (sekar...

ICE CREAM TRENDY

ICE CREAM TRENDY  : Berasal dari kata ICE = dingin dan CREAM : krim dan dipadukan menjadi ICE CREAM, sedangkan nama TRENDY adalah inspirasi dari si pemilik usaha ICE CREAM TRENDY yang bernama BP. Bambang. BP. Bambang merupakan seseorang warga Desa kebon yang cukup ulet membangun usaha demi menafkah I anak istinya, Pria kelahiran klaten, juli 1975 ini mempunyai 2 anak laki-laki yang dan 1 orang istri. Sosok Bp. Bambang  merupakan salah satu warga Desa kebon yang memiliki jiwa yang tidak pantang menyerah dan terus berusaha dan juga belajar dari sebuah kegagalan yang dia alami.