Langsung ke konten utama

Workshop Teknologi Tepat Guna Program CBI di Ds Kebon, Klaten


Dua hari setelah  Technical Consultant (TCs) program CBI mendapatkan transfer knowledge penerapan Teknologi Tepat Guna dalam ToT – B, pada tanggal 3 September 2010 dilaksanakan workshop - B di Desa Kebon, Bayat, Klaten. Workshop - B ini merupakan lanjutan dari workshop sebelumnya yang bertujuan untuk memberikan informasi beberapa alternatif teknologi tepat guna yang dapat di terapkan di IKM batik untuk mendukung eko efisiensi.
Materi yang diberikan dalam workshop tersebut disesuaikan dengan permintaan dan kondisi IKM batik setempat yaitu efisiensi penggunaan air, penggunaan kembali larutan zat warna bekas, zat warna alam, optimasi alat pencelupan warna, kompor listrik untuk pembatikan, alat recovery lilin batik dan pengelolaan limbah batik secara sederhana. Selain itu peserta workshop diberikan demo penggunaan kompor listrik untuk pembatikan sebagai alternatif lain dari kompor minyak tanah yang saat ini masih banyak digunakan oleh para pembatik di Desa Kebon, Bayat, Klaten.
Peserta yang berjumlah 20 orang dari IKM batik tersebut sangat antusias mengikuti acara workshop dari awal sampai akhir. Hal itu dapat terlihat dengan beberapa komentar dan pertanyaan dari beberapa peserta terkait dengan materi yang diberikan oleh para TC. Bahkan ada beberapa IKM batik yang tertarik untuk menggunakan teknologi kompor listrik untuk pembatikan yang diproduksi oleh BBKB karena dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA PENGHASIL BATIK TULIS RAMAH LINGKUNGAN

Batik Desa Kebon yang menggunakan pewarna alami Batik merupakan salah satu karya seni terkemuka di seluruh nusantara dan telah menjadi kegiatan produksi yang penting di beberapa kota di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Perindustrian, pada tahun 2009 terdapat 28,287 UKM batik di Inonesia yang mempekerjakan 792.286 tenaga kerja. Suksesnya pedagangan batik di Indonesia menimbulkan persoalan lingkungan sendiri karena industri batik setiap tahunnya memproduksi kadar emisi CO2 yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan sektor UKM lainnya dengan mengkonsumsi bahan bakar minyak tanah, zat kimia pemutih secara berlebihan sehingga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Desa Kebon yang terletak di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, merupakan salah satu sentra batik tulis dengan menggunakan pewarna alam. Sebelum gempa DIY-Jateng 2006, sebagian pembatik di desa ini menjadi buruh batik ditempat usaha batik...

ICE CREAM TRENDY

ICE CREAM TRENDY  : Berasal dari kata ICE = dingin dan CREAM : krim dan dipadukan menjadi ICE CREAM, sedangkan nama TRENDY adalah inspirasi dari si pemilik usaha ICE CREAM TRENDY yang bernama BP. Bambang. BP. Bambang merupakan seseorang warga Desa kebon yang cukup ulet membangun usaha demi menafkah I anak istinya, Pria kelahiran klaten, juli 1975 ini mempunyai 2 anak laki-laki yang dan 1 orang istri. Sosok Bp. Bambang  merupakan salah satu warga Desa kebon yang memiliki jiwa yang tidak pantang menyerah dan terus berusaha dan juga belajar dari sebuah kegagalan yang dia alami.

SEJARAH DAN ASAL-USUL KOTA KLATEN

Ada dua versi yang menyebutkan tentang asal mula nama Klaten , versi yang pertama menyebutkan bahwa kata Klaten berasal dari kata Kelati atau buah bibir. Kemudian seiring perjalanan waktu kata kelati ini mengalami disimilasi menjadi Klaten. Versi kedua beradasarkan kata orang tua terdahulu dan turun temurun yang dikutip dalam buku berjudul “Klaten dari Masa ke Masa” yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993. Versi kedua ini menyebutkan bahwa Klaten awal mulanya berasal dari kata Melati, Melati adalah nama seorang Kyai yang datang dan menetap ke tempat yang masih hutan belantara (sekarang menjadi kota Klaten) kurang lebih 560 tahun yang lalu, dan semakin lama orang semakin berdatangan dan berkembang hingga menjadi kota Klaten seperti sekarang ini. Nama lengkap Kyai Melati adalah Kyai Melati Sekolekan. Dan nama dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat kemudian diberi nama dukuh Sekolekan (sekar...